Sinopsis Tendangan dari Langit | Ringkasan Cerita Film – Satu lagi film berlatar olahraga. Kali ini berjudul Tendangan dari Langit. Film ini juga melibatkan dua pemain naturalisasi Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, meski dinilai sekadar jadi pemanis untuk menarik animoi penonton. Bagaimana sinopsisnya?

Wahyu (Yosie Kristanto), remaja 16 tahun yang tinggal di Desa Langitan di lereng gunung Bromo adalah pemain sepakbola yang berbakat. Dia bahkan sudah bisa mencari uang dari bakatnya itu, dengan bermain untuk tim sepakbola kampungnya.

Tapi, kecintaannya pada sepakbola ditentang oleh Darto (Sujiwo Tejo) sang ayah yang belakangan diketahui juga seorang pemain sepakbola berbakat. Darto yang sempat hancur mimpinya karena cidera kaki pada saat try out untuk klub sepakbola Persema Malang tak ingin anaknya sakit hati karena mimpinya hancur pula. Maka film ini pun bercerita soal bagaimana Wahyu mengejar mimpinya dan meyakinkan sang ayah yang menentangnya.

Penampilan Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, dua pemain Persema sepertinya dalam rangka menarik minat lebih banyak penonton khususnya penggemar mereka karena ternyata penampilan mereka di film ini kurang signifikan, tak digambarkan dengan kuat sebagai tokoh yang jadi inspirasi bagi Wahyu. Film lokal yang cukup baru dan temanya seperti ini juga adalah Garuda di Dadaku (2009), hanya saja film karya Hanung (cerita digarap Hanung bersama Fajar Nugroho) ini lebih menarik.

Secara visual saja, Tendangan dari Langit sudah memberikan suguhan yang sangat menghibur mata. Setting di lereng Gunung Bromo akhirnya menghasilkan pemandangan yang indah—apalagi Faozan Rizal, Director of Photography yang ternama bertanggung jawab di sini.

Yosie yang didapat dari proses audisi menunjukkan aktingnya yang luwes—serta paling penting, dia membuat kita yakin bahwa dia memang layak memerankan anak yang jago bermain sepak bola—sehingga tak jomplang dengan akting bintang kawakan lainnya macam Agus Kuncoro yang jadi pamannya, maupun Sujiwo Tejo yang bermain memikat dan beberapa kali meneriakkan ‘jancuk’ di film (followers dia di Twitter pasti akan senang mendengar ini, karena Tejo terkenal sebagai Presiden Jancukers).

Film ini punya paket hiburan yang lengkap: membuat tertawa di beberapa bagian (entah karena dialog yang memang kocak atau karena karakter yang kuat macam Sujiwo Tejo sedikit gerakannya pun bisa mengundang tawa), menyuguhkan manisnya percintaan dua remaja (sehingga yang remaja bisa ada kedekatan psikologis dengan cerita dan yang pernah remaja bisa mengingat kembali asmara masa remaja), mengharukan di bagian Wahyu dan bagaimana usahanya membahagiakan sang ayah dengan memberinya hadiah, mengundang senyum di bagian kisah tiga sahabat (chemistry di antara para pemainnya patut diacungi jempol padahal Yosie tak diberi waktu lama untuk mengenal Joshua Suherman dan Jordi Onsu), hingga membuat merenung ketika sampai di bagian kisah klasik orang tua dan anak yang merasa paling tahu apa yang terbaik bagi sang anak.

Kalaupun ada yang sedikit mengganjal di film ini adalah bagian soal lutut Wahyu dan penyelesaiannya kemudian yang tentu saja tak bisa saya ceritakan di sini. Meski sudah banyak film yang bercerita soal beratnya mengejar mimpi ataupun film yang kental dengan atmosfer olahraga dan meski judulnya agak norak, Tendangan dari Langit akan membuat Anda keluar bioskop dengan senyuman. (sumber: detik.com)